Metro – Peluncuran EPIK (Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah) resmi digelar di Pondok Pesantren Al Muhsin Kota Metro Provinsi Lampung dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari Pemerintah Kota Metro, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung, hingga sektor perbankan syariah. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah berbasis lingkungan di kalangan santri.
Direktur Pondok Pesantren Al Muhsin Ahmad Nurwahid, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, kepada Pemerintah Kota Metro, serta semua pihak yang telah mendukung sehingga hari ini launching EPIK dapat terlaksana,” ujarnya, Jumat (20/02/2026).
Ia menjelaskan program EPIK yang diluncurkan di lingkungan pesantren merupakan hasil pembinaan dari tim Bank Sampah Sahabat Gajah Provinsi Lampung. Berbagai produk hasil pengelolaan sampah telah dipamerkan seperti kursi dari ecobrick dan aromaterapi berbahan minyak jelantah. “Di bawah pohon sawo itu ada kursi dari ecobrick, ada aromaterapi dari minyak jelantah, dan masih banyak karya lainnya,” kata Ahmad Nurwahid.
Menurutnya keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran para ustaz dan ustazah serta tenaga pendidik yang membina para santri. Ia menegaskan, mimpi besar Pondok Pesantren Al Muhsin adalah mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkontribusi dalam mengurangi persoalan sampah di Kota Metro. “Kami bermimpi pondok ini bisa mengelola sampah secara mandiri dan membantu menyelesaikan persoalan sampah di Kota Metro,” ucapnya.
Sementara itu Deputi Direktur PEPK dan LMS Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung Ety Elyati, menjelaskan bahwa peluncuran EPIK merupakan bagian dari program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Metro yang berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Ia menegaskan EPIK mengintegrasikan nilai keislaman, literasi keuangan syariah, dan kepedulian lingkungan.
“Program EPIK bukan sekadar tentang menabung, tetapi membangun ekosistem keuangan syariah yang holistik di lingkungan pesantren,” ujar Ety Elyati. Ia menambahkan santri diajak memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomis dan dapat mendukung ekonomi sirkular berbasis syariah.
Ety juga memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2025 yang menunjukkan indeks literasi keuangan syariah masih berada pada angka 43,42% dan inklusi 13,41%. Kondisi tersebut menurutnya masih memerlukan upaya peningkatan melalui berbagai program edukasi terutama menyasar kelompok usia muda 15–25 tahun.

Program bank sampah di lingkungan pesantren lanjutnya, diintegrasikan dengan produk Tabungan Simpanan Pelajar (SimPel). Santri yang aktif mengumpulkan sampah dapat memanfaatkan produk keuangan tersebut sebagai sarana menabung dan belajar mengelola keuangan sejak dini.
Plt. Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Lampung Ir. August Riko, S.A., yang hadir mewakili Ketua TPAKD Provinsi Lampung menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menilai aktivitas harian pesantren dengan ratusan hingga ribuan santri berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar yang apabila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber nilai ekonomi.
“Jika satu hari menghasilkan 300 hingga 500 kilogram sampah, maka dalam satu bulan bisa mencapai 9 hingga 15 ton. Kalau dibuang selesai tetapi kalau dikelola akan menjadi nilai ekonomi,” ujarnya. Ia menegaskan sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan ternak sedangkan sampah anorganik dapat dipilah dan ditabung sebagai modal usaha kecil santri.
Sambutan Wali Kota Metro yang diwakili Asisten I Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kusbani, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Metro dalam mendukung pengembangan pesantren. Ia menyebut Kota Metro dikenal sebagai kota pelajar sekaligus kota pondok pesantren yang berkontribusi terhadap perputaran ekonomi daerah.
“Kami mendukung penuh hadirnya EPIK di Kota Metro. Ini bukan hanya seremoni, tetapi harus menjadi gerakan berkelanjutan dalam membangun budaya menabung, disiplin, dan peduli lingkungan,” kata Kusbani.
Melalui peluncuran EPIK di Pondok Pesantren Al Muhsin, seluruh pihak berharap terbentuk generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam literasi keuangan syariah, mandiri secara ekonomi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan inklusi keuangan syariah berbasis pesantren di Kota Metro dan Provinsi Lampung secara luas. (Adv)









